jump to navigation

(un)perfect August 17, 2008

Posted by diarybiru in Gudang Kata.
add a comment

Tiada sempurna di dunia ini

Kecuali dengan rasa syukur

Dan pemakluman dari kita

Yang membuatnya tampak sempurna

Ikhlas August 16, 2008

Posted by diarybiru in Saatnya Ilmu Bicara.
add a comment

Ikhlas,

Sebuat kata yang sulit penerapannya. Mungkin lebih sulit dari kata cinta. Karena di dalam aktifitas “bercinta” juga butuh ikhlas didalamnya.

Tahapan ikhlas ada tiga. Pertama, saat niat. Mungkin tingkat kesulitannya tergantung masalahnya. Niat infak 2000 rupiah itu mudah, niat memberi makan ke pengemis juga mudah, niat memasak untuk keluarga juga mudah-mudah saja. Ada yang merasa sulit?. Ah, insya Allah tidak ya..

Tapi kalau niat mengizinkan suami menikah lagi? atau mengikhlaskan kematian orang tersayang? Waaah… ini tidak mudah ya.. Misal oke, niat sudah ikhlas.

Lanjut ke tahap kedua, yaitu saat pelaksanaan.. realizing.. Boleh jadi kita tidak keberatan ketika uang 2000 kita masuk kotak infak masjid. Atau sepiring nasi kita bagikan ke pengemis, pula memasak dengan senang hati untuk keluarga. Atau setelah proses panjang, akhirnya kita ikhlas mengizinkan suami berpoligami, mengikhlaskan kematian anak dll…

Berikutnya tahapan ketiga. Nah, ini yang seringkali menjebak. Ketika pulang sholat Jum’at, matahari begitu teriknya. Dahaga pun datang. Saat melewati tukang es, refleks tangan merogoh katong baju. Tapi ya ampuun… Tadi uang 2000 rupiahnya sudah masuk kotak masjid.

“Yah, nyesel deh.. coba buat beli es cendol nih… Mana haus dan panas gini.. “

Nah, hati-hati nih.. jatuh deh ikhlasnya :D … Sejak kapan ada ceritanya ikhlas pake nyesel?

Atau, menyebut-nyebut kebaikan yang telah kita lakukan dengan niat mendapat pujian atau pamer, itu juga perlu dipertanyakan. Slogan ikhlas yang terkenal kan “Tangan kanan memberi, tangan kiri bersembunyi”. Kalau disebut-sebut begitu, bisa saja kedengaran si “tangan kiri” toh?.

Ikhlas meliputi hampir semua perbuatan kita. Beribadah harus ikhlas, memberi harus ikhlas, menerima pun harus ikhlas, melepaskan kepergian barang, terlebih orang yang kita cinta mesti ikhlas lagi.. Lantas apa jadinya bila kita tidak pandai mengolah ikhlas?

Wes… habis sudah amal kita, pengorbanan kita, pemberian kita, derita kita… dan sebagainya. Melayang bagai abu yang ringan. Tanpa sisa…

Tapi tenang… Allah maha Pemurah. Islam itu tidak menyusahkan. Kalau sampai pada tahap ketiga kita kalah, jatuh, dll… Kita masih bisa memperbaharui ikhlas itu. Gimana caranya? daur ulang? Bukan dong… emangnya barang bekas?

Caranya, dengan istighfar… Insya Allah… Mohon ampun atas kesilapan..

Sakit gigi, pergi ke dokter gigi. Sampai di sana, ada tulisan “Maaf, Dokter sedang sakit gigi”

“Gimana ini? tau begini tidak usah datang!”

Tidak datang bagaimana? nyatanya sudah sampai, ya? Ikhlas aja..

Pulang, di perjalanan ban kendaraan meletus..

“Aduuuh… sudah sakit gigi, bannya meletus lagi!”

Ikhlas lagi..! tidak ikhlas juga meletus bannya, ya?

Di atas sepenggal ceramah Aa Gym tentang ikhlas yang saya ingat. Ngena betul bagi saya. Jadi sekarang, kalau ada apa-apa, langsung ingat ceramah Aa..

Duit hilang, ikhlas.. Toh  tidak ikhlas juga duitnya sudah hilang, ya? Kalau tidak ikhlas tidak dapat apa-apa.. mana duit sudah hilang..

Kalau ikhlas kan, duit hilang dapat pahala. Siapa tahu diganti lebih baik lagi..

Sakit, ikhlas aja atuh.. tidak ikhlas juga nyatanya emang sakit, toh? cuma kalau tidak ikhlas, sakitnya sia-sia.. mana udah sakit, ngga dapet apa-apa. Coba kalau ikhlas?… sakitnya menggugurkan dosa-dosa… Tuhkan.. pilih mana?

Alhamdulillah.. Allohumma arinil haqqo-haqqo, warzuqnit tiba’ah. Wa arinil bathila-bathila, warzuqnij tinabah. Astaghfirullahal adziim… Subhanaka Allahumma wabihamdika asyhadu anlaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik…

Wassalamualaikum wr wb.

Berbagilah August 13, 2008

Posted by diarybiru in Gudang Kata.
add a comment

Kemarin, sewaktu diperjalanan saya bertemu dua anak laki-laki kecil. Mungkin sekitar kelas 2 sekolah dasar. di punggung mereka teronggok karung besar, tapi entah isinya berat atau tidak. Tapi terlihat otot-otot di lengan mungil itu bertarikan. Ah, kasihan betul.Tapi apa nak saya buat?.

Waktu itu saya bersepeda. Baru saja melewati mereka, saya terdengar panggilan.

“Kak! kak!” salah satunya memanggil.

Saya hentikan laju sepeda, lalu tengok ke arah mereka. Jangan-jangan mau minta uang nih? pikirku. Bukan tanpa alasan saya berpikir seperti itu. Dulu pernah waktu menyebrang di jembatan penyebrangan, ada sekelompok anak pemulung juga meminta uang, tapi tak saya kasih karena lagak mereka yang tidak mengenakkan dan setengah memaksa. Dan tau apa? mereka mengejar dan meludahi saya! Arrgh! habis tu, takut dah lewat jembatan penyebrangan :p.

“Ya.. kenapa dek?”

“Boleh minta air ngga?”Suara itu takut-takut. Saya melihat wajah itu susah la. Dia benar-benar kehausan..

Ya Allah…Pilu hati ini. Pasti mereka haus sangat dah. Entah dari mana mereka dah berjalan.

Dalam gelap senja itu, lampu jalan yang menguning cukup membuat mata ini jelas membaca air muka anak tadi. Wajah kecil yang kelelahan. Masya Allah..

“Sebentar ya, saya lihat dulu.” Segera saya buka tas dan sangat amat berharap ada botol air disana.

Yess! ada. Walaupun airnya tinggal sekitar satu gelas.

“Ini, tapi tinggal sedikit.. diminum ya buat berdua” kataku ramah.

“Makasih ya kak..” kata mereka.

Selepas itu, air mata ni menitik. Apa kerjaku selama ini ha? makan puas-puas. Mandi dengan air banyak-banyak. Pandai mengeluh jika kerjaan sedang menumpuk. Bermain perasaan terhadap lawan jenis…

Tak tau kah? anak-anak seperti mereka tu kurang gizi? Jangankan mandi, untuk minum pun air tak sehat, bau pula. Bekerja keras demi menyambung hidup. Tak jarang dimarah ibu atau ayah yang matrealistis, kekerasan menghantui, premanisasi, pencabulan bahkan!.

Tak tau kah? saya tu dah berlebih nikmat. Tapi mengapa sering mengeluh.. Malu ke tak? Malu tidak dengan anak kecil tu tadi?

Ya Allah… rabighfirli.. ampuni hamba ini.